Mengendalikan Lidah


MENGENDALIKAN LIDAH

 

Oleh Ustadz
Abu Isma’il Muslim al-Atsari

NIKMAT LIDAH

Sesungguhnya
Allah Ta’ala telah menganugerahkan kepada manusia nikmat yang sangat banyak dan
besar. Di antara nikmat Allah yang terbesar, setelah nikmat iman dan Islam,
ialah nikmat berbicara dengan lidah, nikmat kemampuan menjelaskan isi hati dan
kehendak.

Allah
Ta’ala berfirman:

“Allah yang Maha pemurah. Yang telah mengajarkan Al-Qur`an. Dia
menciptakan manusia. Mengajarnya pandai berbicara”. [ar-Rahmân/55:1-4].

Penciptaan
manusia dan pengajaran berbicara kepadanya benar-benar merupakan salah satu
tanda kekuasaan Allah yang besar. Oleh karena itulah, Allah juga menyebutkan
nikmat-Nya tentang penciptaan alat-alat berbicara bagi manusia.

Allah
berfirman:

“Bukankah Kami telah memberikan kepadanya dua buah mata, lidah dan
dua buah bibir”. [al-Balad/90:8-9].[1]

LIDAH, SENJATA BERMATA DUA

Meski
lidah merupakan nikmat yang besar, namun kita perlu mengetahui, bahwasanya
lidah yang berfungsi untuk berbicara ini seperti senjata bermata dua. Yaitu
dapat digunakan untuk taat kepada Allah, dan juga dapat digunakan untuk
memperturutkan setan.

Jika
seorang hamba mempergunakan lidahnya untuk membaca Al-Qur`ân, berdzikir, berdoa
kepada Allah, untuk amar ma’ruf, nahi munkar, atau untuk lainnya yang berupa
ketaatan kepada Allah, maka inilah yang dituntut dari seorang mukmin, dan ini
merupakan perwujudan syukur kepada Allah terhadap nikmat lidah.

Sebaliknya,
jika seseorang mempergunakan lidahnya untuk berdoa kepada selain Allah,
berdusta, bersaksi palsu, melakukan ghibah, namimah, memecah belah umat Islam,
merusak kehormatan seorang muslim, bernyanyi dengan lagu-lagu maksiat, atau
lainnya yang berupa ketaatan kepada setan, maka ini diharamkan atas seorang
mukmin, dan merupakan kekufuran kepada Allah terhadap nikmat lidah.[2]

Dengan
demikian, lidah manusia itu bisa menjadi faktor yang bisa mengangkat derajat
seorang hamba di sisi Allah, namun juga bisa menyebabkan kecelakaan yang besar
bagi pemiliknya.

Rasulullah
Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إِنَّ الْعَبْدَ لَيَتَكَلَّمُ بِالْكَلِمَةِ مِنْ
رِضْوَانِ اللَّهِ لَا يُلْقِي لَهَا بَالًا يَرْفَعُهُ اللَّهُ بِهَا دَرَجَاتٍ
وَإِنَّ الْعَبْدَ لَيَتَكَلَّمُ بِالْكَلِمَةِ مِنْ سَخَطِ اللَّهِ لَا يُلْقِي
لَهَا بَالًا يَهْوِي بِهَا فِي جَهَنَّمَ

“Sesungguhnya ada seorang hamba benar-benar berbicara dengan satu
kalimat yang termasuk keridhaan Allah, dia tidak menganggapnya penting; dengan
sebab satu kalimat itu Allah menaikkannya beberapa derajat. Dan sesungguhnya
ada seorang hamba benar-benar berbicara dengan satu kalimat yang termasuk
kemurkaan Allah, dia tidak menganggapnya penting; dengan sebab satu kalimat itu
dia terjungkal di dalam neraka Jahannam”. [HR al-Bukhâri, no. 6478].

Al-Hafizh
Ibnu Hajar al-‘Asqalani rahimahullah menjelaskan makna “dia tidak
menganggapnya penting”, yaitu dia tidak memperhatikan dengan fikirannya
dan tidak memikirkan akibat perkataannya, serta tidak menduga bahwa kalimat itu
akan mempengaruhi sesuatu. [Lihat Fat-hul-Bâri, penjelasan hadits no. 6478]

BENCANA LIDAH

Secara
umum, bencana yang ditimbulkan oleh lidah ada dua. Yaitu berbicara batil
(kerusakan, sia-sia), dan diam dari al-haq yang wajib diucapkan.

Abu
‘Ali ad-Daqqâq rahimahullah (wafat 412 H) berkata:

الْمُتَكَلِّمُ
بِالْبَاطِلِ شَيْطَانٌ نَاطِقٌ وَالسَّاكِتُ عَنِ الْحَقِّ شَيْطَانٌ أَخْرَسُ

“Orang yang berbicara dengan kebatilan adalah setan yang berbicara,
sedangkan orang yang diam dari kebenaran adalah setan yang bisu.[3]

Orang
yang berbicara dengan kebatilan ialah setan yang berbicara, ia bermaksiat
kepada Allah Ta’ala. Sedangkan orang yang diam dari kebenaran ialah setan yang
bisu, ia juga bermaksiat kepada Allah Ta’ala. Seperti seseorang yang bertemu
dengan orang fasik, terang-terangan melakukan kemaksiatan di hadapannya, dia
berkata lembut, tanpa mengingkarinya, walau di dalam hati. Atau melihat
kemungkaran, dan dia mampu merubahnya, namun dia membisu karena menjaga
kehormatan pelakunya, atau orang lain, atau karena tak peduli terhadap agama.

Kebanyakan
manusia, ketika berbicara ataupun diam, ia menyimpang dengan dua jenis bencana
lidah sebagaimana di atas. Sedangkan orang yang beruntung, yaitu orang yang
menahan lidahnya dari kebatilan dan menggunakannya untuk perkara bermanfaat.

Bencana
lidah termasuk bagian dari bencana-bencana yang berbahaya bagi manusia. Bencana
lidah itu bisa mengenai pribadi, masyarakat, atau umat Islam secara
keseluruhan.

Termasuk
perkara yang mengherankan, ada seseorang yang mudah menjaga diri dari makanan
haram, berbuat zhalim kepada orang lain, berzina, mencuri, minum khamr, melihat
wanita yang tidak halal dilihat, dan lainnya, namun dia seakan sulit menjaga
diri dari gerakan lidahnya. Sehingga terkadang seseorang yang dikenal dengan
agamanya, zuhudnya, dan ibadahnya, namun ia mengucapkan kalimat-kalimat yang
menimbulkan kemurkaan Allah, dan ia tidak memperhatikannya. Padahal hanya
dengan satu kalimat itu saja, dapat menyebabkan dirinya bisa terjerumus ke
dalam neraka melebihi jarak timur dan barat. Atau ia tersungkur di dalam neraka
selama tujuh puluh tahun.[4]

Rasulullah
Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إِنَّ
الرَّجُلَ لَيَتَكَلَّمُ بِالْكَلِمَةِ لَا يَرَى بِهَا بَأْسًا يَهْوِي بِهَا
سَبْعِينَ خَرِيفًا فِي النَّارِ

“Sesungguhnya ada seseorang yang berbicara dengan satu kalimat, ia
tidak menganggapnya berbahaya; dengan sebab satu kalimat itu ia terjungkal
selama 70 tahun di dalam neraka”.[5]

Dalam
riwayat lain disebutkan bahwasanya beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam
bersabda:

إِنَّ
الْعَبْدَ لَيَتَكَلَّمُ بِالْكَلِمَةِ مَا يَتَبَيَّنُ مَا فِيهَا يَهْوِي بِهَا
فِي النَّارِ

أَبْعَدَ
مَا بَيْنَ الْمَشْرِقِ وَالْمَغْرِبِ

“Sesungguhnya ada seorang hamba benar-benar berbicara dengan satu
kalimat yang ia tidak mengetahui secara jelas maksud yang ada di dalam kalimat
itu, namun dengan sebab satu kalimat itu dia terjungkal di dalam neraka lebih
jauh dari antara timur dan barat”. [HR Muslim, no. 2988].

Alangkah
banyak manusia yang menjaga diri dari perbuatan keji dan maksiat, namun
lidahnya memotong dan menyembelih kehormatan orang-orang yang masih hidup atau
yang sudah meninggal. Dia tidak peduli dengan apa yang sedang ia ucapkan. Lâ
haula wa lâ quwwata illa bilâhil-‘aliyyil-‘azhîm.

Sebagai
contoh, ialah sebagaimana disebutkan dalam hadits Nabi Shallallahu ‘alaihi wa
sallam di bawah ini:

عَنْ
جُنْدَبٍ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ حَدَّثَ أَنَّ رَجُلًا قَالَ وَاللَّهِ لَا
يَغْفِرُ اللَّهُ لِفُلَانٍ وَإِنَّ اللَّهَ تَعَالَى قَالَ مَنْ ذَا الَّذِي
يَتَأَلَّى عَلَيَّ أَنْ لَا أَغْفِرَ لِفُلَانٍ فَإِنِّي قَدْ غَفَرْتُ لِفُلَانٍ
وَأَحْبَطْتُ عَمَلَكَ أَوْ كَمَا قَالَ

“Dari Jundab, bahwasanya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam
menceritakan ada seorang laki-laki berkata: “Demi Allah, Allah tidak akan
mengampuni Si Fulan!” Kemudian sesungguhnya Allah Ta’ala berfirman:
“Siapakah yang bersumpah atas nama-Ku, bahwa Aku tidak akan mengampuni Si
Fulan, sesungguhnya Aku telah mengampuni Si Fulan, dan Aku menggugurkan
amalmu”. Atau seperti yang disabdakan Nabi”. [HR Muslim, no. 2621].

Oleh
karena bahaya lidah yang demikian itulah, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa
sallam mengkhawatirkan umatnya.

عَنْ
سُفْيَانَ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ الثَّقَفِيِّ قَالَ قُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ
حَدِّثْنِي بِأَمْرٍ أَعْتَصِمُ بِهِ قَالَ قُلْ رَبِّيَ اللَّهُ ثُمَّ اسْتَقِمْ
قُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ مَا أَخْوَفُ مَا تَخَافُ عَلَيَّ فَأَخَذَ بِلِسَانِ
نَفْسِهِ ثُمَّ قَالَ هَذَا

“Dari
Sufyan bin ‘Abdullah ats-Tsaqafi, ia berkata: “Aku berkata, wahai
Rasulullah, katakan kepadaku dengan satu perkara yang aku akan berpegang
dengannya!” Beliau menjawab: “Katakanlah, ‘Rabbku adalah Allah’, lalu
istiqomahlah”. Aku berkata: “Wahai Rasulullah, apakah yang paling
anda khawatirkan atasku?”. Beliau memegang lidah beliau sendiri, lalu
bersabda: “Ini”.[6]

Syaikh
Husain al-‘Awaisyah berkata: “Sesungguhnya sekarang ini, sesuatu yang
manusia merasa amat tenteram terhadapnya ialah lidah mereka, padahal lidah yang
paling dikhawatirkan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam atas umatnya. Dan yang
nampak, lidah itu seolah-olah pabrik keburukan, tidak pernah lelah dan
bosan”.[7]

MENJAGA LIDAH

Menjaga
lidah disebut juga hifzhul-lisân. Lidah itu sendiri merupakan anggota badan
yang benar-benar perlu dijaga dan dikendalikan. Lidah memiliki fungsi sebagai
penerjemah dan pengungkap isi hati. Oleh karena itu, setelah Nabi n
memerintahkan seseorang beristiqomah, kemudian mewasiatkan pula untuk menjaga
lisan. Keterjagaan dan lurusnya lidah sangat berkaitan dengan kelurusan hati
dan keimanan seseorang.

Di
dalam Musnad Imam Ahmad, dari Anas bin Mâlik , dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa
sallam, beliau bersabda.

لَا يَسْتَقِيمُ إِيمَانُ عَبْدٍ حَتَّى يَسْتَقِيمَ
قَلْبُهُ وَلَا يَسْتَقِيمُ قَلْبُهُ حَتَّى يَسْتَقِيمَ لِسَانُهُ وَلَا يَدْخُلُ
رَجُلٌ الْجَنَّةَ لَا يَأْمَنُ جَارُهُ بَوَائِقَهُ

“Iman seorang hamba tidak akan istiqomah, sehingga hatinya
istiqomah. Dan hati seorang hamba tidak akan istiqomah, sehingga lisannya
istiqomah. Dan orang yang tetangganya tidak aman dari kejahatan-kejahatannya,
ia tidak akan masuk surga”. [8]

Dalam
hadits Tirmidzi (no. 2407) dari Abu Sa’id al-Khudri, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa
sallam bersabda.

إِذَا
أَصْبَحَ ابْنُ آدَمَ فَإِنَّ الْأَعْضَاءَ كُلَّهَا تُكَفِّرُ اللِّسَانَ
فَتَقُولُ اتَّقِ اللَّهَ فِينَا فَإِنَّمَا نَحْنُ بِكَ فَإِنْ اسْتَقَمْتَ
اسْتَقَمْنَا وَإِنْ اعْوَجَجْتَ اعْوَجَجْنَا

“Jika anak Adam memasuki pagi hari, sesungguhnya semua anggota
badannya berkata merendah kepada lisan: “Takwalah kepada Allah dalam
menjaga hak-hak kami. Sesungguhnya kami ini tergantung kepadamu. Jika engkau
istiqomah, maka kami juga istiqomah. Jika engkau menyimpang (dari jalan
petunjuk), kami juga menyimpang”.[9]

Oleh
karena itu, seorang mukmin hendaklah menjaga lidahnya. Apa jaminan bagi
seseorang yang menjaga lidahnya dengan baik? Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi
wa sallam bersabda.

مَنْ
يَضْمَنْ لِي مَا بَيْنَ لَحْيَيْهِ وَمَا بَيْنَ رِجْلَيْهِ أَضْمَنْ لَهُ
الْجَنَّةَ

“Barang siapa yang menjamin untukku apa yang ada di antara dua
rahangnya dan apa yang ada di antara dua kakinya, niscaya aku menjamin surga
baginya”.[10]

Nabi
Shallallahu ‘alaihi wa sallam juga menjelaskan, menjaga lidah merupakan
keselamatan.

عَنْ
عُقْبَةَ بْنِ عَامِرٍ قَالَ قُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ مَا النَّجَاةُ قَالَ
أَمْلِكْ عَلَيْكَ لِسَانَكَ وَلْيَسَعْكَ بَيْتُكَ وَابْكِ عَلَى خَطِيئَتِكَ

“Dari
‘Uqbah bin ‘Aamir, ia berkata: “Aku bertanya, wahai Rasulallah, apakah
sebab keselamatan?” Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab:
“Kuasailah lidahmu, rumah yang luas bagimu, dan tangisilah
kesalahanmu”. [HR. Tirmidzi, no. 2406].

Maksudnya,
janganlah berbicara kecuali dengan perkara yang membawa kebaikan, betahlah
tinggal di dalam rumah dengan melakukan ketaatan-ketaatan, dan hendaklah
menyesali kesalahan-kesalahan dengan cara menangis.[11]

Imam
an-Nawawi rahimahullah (wafat 676 H) berkata: “Ketahuilah, seharusnya
setiap mukallaf (orang yang berakal dan baligh) menjaga lidahnya dari seluruh
perkataan, kecuali perkataan yang jelas maslahat padanya. Ketika berbicara atau
meninggalkannya itu sama maslahatnya, maka menurut Sunnah adalah menahan diri
darinya. Karena perkataan mubah bisa menyeret kepada perkataan yang haram, atau
makruh. Kebiasaan ini, bahkan banyak dilakukan. Sedangkan keselamatan itu tidak
ada bandingannya.

Diriwayatkan
dalam Shahîhain, al-Bukhaari (no. 6475) dan Muslim (no. 47), dari Abu Hurairah
Radhiyallahu ‘anhu, dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, ia bersabda.

مَنْ كَانَ
يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُتْ

“Barang siapa beriman kepada Allah dan hari Akhir, hendaklah dia
berkata yang baik atau diam”.

Hadits
yang disepakati keshahîhannya ini merupakan nash yang jelas. Hendaklah
seseorang tidak berbicara kecuali jika perkataan itu merupakan kebaikan, yaitu
yang nampak maslahatnya. Jika ia ragu-ragu tentang timbulnya maslahatnya, maka
hendaklah ia tidak berbicara.

Imam asy-Syafi’i berkata: “Jika seseorang
menghendaki berbicara, maka sebelum berbicara hendaklah ia berfiikir; jika
jelas nampak maslahatnya, maka ia berbicara; dan jika ragu-ragu, maka tidak
berbicara sampai jelas maslahatnya”.[12]

Selain
itu, lidah merupakan alat yang berguna untuk mengungkapkan isi hati. Jika ingin
mengetahui isi hati seseorang, maka perhatikanlah gerakan lidahnya, isi
pembicaraannya, dan hal itu akan menunjukkan isi hatinya, baik orang tersebut
mau maupun enggan.

Diriwayatkan
bahwasanya Yahya bin Mu’adz berkata: “Hati itu seperti periuk dengan
isinya yang mendidih. Sedangkan lidah itu adalah gayungnya. Maka perhatikanlah
ketika seseorang berbicara. Karena sesungguhnya, lidahnya itu akan mengambilkan
untukmu apa yang ada di dalam hatinya, manis, pahit, tawar, asin, dan lainnya.
Pengambilan lidahnya akan menjelaskan kepadamu rasa hatinya”.[13]

PERKATAAN PARA SALAF TENTANG MENJAGA LISAN

Sungguh,
dahulu para salaf terbiasa menjaga dan menghisab lidahnya dengan baik. Dari
mereka telah diriwayatkan banyak perkataan bagus yang berkaitan dengan lidah.
Berikut ini ialah sebagian dari pembicaraan mereka, sehingga kita dapat memetik
manfaat darinya.

Diriwayatkan, bahwasanya ‘Umar bin al-Khaththab berkata: “Barang siapa
banyak pembicaraannya, banyak pula tergelincirnya. Dan barang siapa banyak
tergelincirnya, banyak pula dosanya. Dan barang siapa banyak dosa-dosanya,
neraka lebih pantas baginya”.[14]

Diriwayatkan, bahwasanya Ibnu Mas’ud pernah bersumpah
dengan nama Allah, lalu berkata: “Tidak ada di muka bumi ini sesuatu yang
lebih pantas terhadap lamanya penjara daripada lidah ! Di muka bumi ini, tidak
ada sesuatu yang lebih pantas menerima lamanya penjara daripada lidah”.[15]

Diriwayatkan bahwasanya Ibnu Mas’ud berkata: “Jauhilah
fudhûlul-kalam (pembicaraan yang melebihi keperluan). Cukup bagi seseorang
berbicara, menyampaikan sesuai kebutuhannya”.[16]

Syaqiq berkata: ‘Abdullah bin Mas’ud bertalbiyah di atas bukit Shafa,
kemudian berseru: “Wahai lidah, katakanlah kebaikan, niscaya engkau
mendapatkan keberuntungan. Diamlah, niscaya engkau selamat, sebelum engkau
menyesal”.

Orang-orang bertanya: “Wahai Abu ‘Abdurrahman, apakah ini suatu
perkataan yang engkau ucapkan sendiri, atau engkau dengar?”

Dia menjawab, “Tidak, bahkan aku telah mendengar Rasulallah
Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda

أَكْثَرُ
خَطَايَا إِبْنِ آدَمَ فِي لِسَانِهِ

“(kebanyakan kesalahan anak Adam ialah pada lidahnya)”. [17]

Diriwayatkan, bahwasanya Ibnu Buraidah berkata: “Aku melihat Ibnu
‘Abbas memegangi lidahnya sambil berkata, ‘Celaka engkau, katakanlah kebaikan,
engkau mendapatkan keberuntungan. Diamlah dari keburukan, niscaya engkau
selamat. Jika tidak, ketahuilah bahwa engkau akan menyesal’.”[18]

Diriwayatkan, bahwasanya an-Nakha`i berkata: “Manusia binasa pada
fudhûlul-mâl (harta yang melebihi kebutuhan) dan fudhûlul-kalam (pembicaraan
yang melebihi keperluan)”.[19]

Diriwayatkan, bahwasanya ada seseorang yang bermimpi bertemu dengan
seorang ‘alim besar. Kemudian orang ‘alim itu ditanya tentang keadaannya, dia
menjawab: “Aku diperiksa tentang satu kalimat yang dahulu aku ucapkan.
Yaitu, dahulu aku pernah mengatakan, ‘manusia sangat membutuhkan hujan’.”
Aku ditanya: “Tahukah engkau bahwa Aku (Allah) lebih mengetahui terhadap
maslahat hamba-hamba-Ku?”[20]

Diriwayatkan, bahwasanya seorang Salaf berkata: “Seorang mukmin itu
ialah menyedikitkan perkataan dan memperbanyak amal. Adapun orang munafik, ia
memperbanyak perkataan dan menyedikitkan amal”.

Diriwayatkan, bahwasanya seorang Salaf berkata: “Selama aku belum
berbicara dengan satu kalimat, maka aku manguasainya. Namun jika aku telah
mengucapkannya, maka kalimat itu menguasaiku”.

Diriwayatkan, bahwasanya seorang Salaf berkata: “Diam adalah ibadah
tanpa kelelahan, keindahan tanpa perhiasan, kewibawaan tanpa kekuasaan. Anda
tidak perlu beralasan karenanya, dan dengannya aibmu tertutupi”.[21]

Kesimpulannya, kita diperintah
untuk berbicara yang baik dan diam dari keburukan. Jika berbicara, hendaklah
sesuai dengan keperluannya.
Wallahul-Musta’an.

Mashâdir:

1. Âfâtul-Lisân fî Dhau`il Kitab was-Sunnah, Dr. Sa’id bin
‘Ali bin Wahf al-Qahthani.

2. Al-Adzkâr, Imam an-Nawawi, Tahqîq dan Takhrîj: Syaikh
Salim al-Hilâli, Penerbit Dar Ibni Hazm, Cetakan Kedua, Tahun 1425H/2004M.

3. Hashâ`idul-Alsun, Syaikh Husain al-‘Awaisyah, Penerbit
Darul-Hijrah.

4. Jami’ul ‘Ulum wal-Hikam, Imam Ibnu Rajab, dengan
penelitian Syu’aib al-Arnauth dan Ibrâhîm Bajis, Penerbit ar-Risalah, Cetakan
kelima, Tahun 1414H/1994M.

5. Dan lain-lain.

[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 12/Tahun
XI/1429H/2008M. Penerbit Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo-Purwodadi
Km.8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 0271-761016]

________

Footnote

[1]. Tafsir Adh-wâ`ul Bayân, karya Syaikh Muhammad al-Amin
asy-Syinqithi. Lihat surat ar-Rahmân, 55/3-4.

[2]. Âfâtul-Lisân fî Dhau`il Kitab was-Sunnah, Dr. Sa’id bin
‘Ali bin Wahf al-Qahthani, hlm. 4-5, 159-160.

[3]. Disebutkan oleh Ibnul-Qayyim dalam ad-Dâ` wad-Dawâ`,
Tahqîq: Syaikh ‘Ali bin Hasan al-Halabi, Penerbit Dar Ibnil-Jauzi, hlm. 155.

[4]. Âfâtul-Lisân fî Dhau`il Kitab was-Sunnah, hlm, 5-6,
163.

[5]. HR at-Tirmidzi, no. 2314. Ibnu Majah, no. 3970. Ahmad,
2/355, 533. Ibnu Hibban, no. 5706. Syaikh al-Albâni menyatakan: “Hasan
shahîh”.

[6]. HR Tirmidzi, no. 2410. Ibnu Majah, no. 3972. Dan
dishahîhkan oleh Syaikh al-Albani.

[7]. Hashâ`idul-Alsun, Penerbit Darul-Hijrah, hlm. 15.

[8]. HR Ahmad, no. 12636, dihasankan oleh Syaikh Salim
al-Hilali dalam Bahjatun-Nazhirin, 3/13.

[9]. HR Tirmidzi, no. 2407, dihasankan oleh Syaikh Salim
al-Hilali dalam Bahjatun-Nazhirin, 3/17, no. 1521. Lihat pula Jami’ul ‘Ulûm
wal-Hikam, 1/511-512.

[10]. HR Bukhâri, no. 6474. Tirmidzi, no. 2408. Dan lafazh
ini milik al-Bukhâri.

[11]. Tuhfatul-Ahwadzi Syarh Sunan Tirmidzi.

[12]. Al-Adzkâr, Imam an-Nawawi. Tahqîq dan Takhrîj: Syaikh
Salim al-Hilâli, Penerbit Dar Ibni Hazm, Cet. 2, Th. 1425H/2004M, 2/713-714.

[13]. Hilyatul-Au’iyâ`, 10/63. Dinukil dari Âfâtul-Lisân fî
Dhau`il Kitab was-Sunnah, hlm, 159.

[14]. Riwayat al-Qudha`i dalam Musnad asy-Syihab, no. 374. Ibnu
Hibban dalam Raudhatul-‘Uqala`, hlm. 44. Dinukil dari Jami’ul ‘Ulûm wal Hikam,
Juz 1, hlm. 339.

[15]. Riwayat Ibnu Hibban dalam Raudhatul-‘Uqala`, hlm. 48.
Dinukil dari Jami’ul ‘Ulûm wal Hikam, Juz 1, hlm. 340.

[16]. Jami’ul ‘Ulûm wal Hikam, Juz 1, hlm. 339.

[17]. HR Thabrani, Ibnu ‘Asakir, dan lainnya. Lihat Silsilah
ash-Shahîhah, no. 534.

[18]. Âfâtul-Lisân fî Dhau`il Kitab was-Sunnah, hlm. 161.

[19]. Jami’ul ‘Ulûm wal Hikam, Juz 1, hlm. 339.

[20]. Âfâtul-Lisân fî Dhau`il Kitab was-Sunnah, hlm. 160-161.

[21]. Hashâ`idul-Alsun, hlm. 175-176.

http://www.almanhaj.or.id/content/2749/slash/0

Tentang hasanmualim

Wong Ndeso
Pos ini dipublikasikan di tausyiah. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s